“Cultural Dialogue Through Gamelan”: National University of Singapore (Nus) dan Prasasti

28 November 2014 | Admin UGM INDO
caption

Pertunjukan Wayang Kulit berbahasa Inggris dengan dalang Ki Eddy Pursubaryanto (staf pengajar Jurusan Sastra Inggris FIB UGM) menjadi puncak acara bertajuk “Cultural Dialogue Through Gamelan”. Cerita yang dibawakan adalah “The Return of Dewi Sri”, sebuah cerita dalam mitos agrikultur tentang Dewi Sri yang dipercaya sebagai Dewi Kesuburan dan Dewi Padi. Para penabuh gamelan merupakan gabungan antara mahasiswa NUS dan PRASASTI (Pradangga Sastra Inggris). Acara ini merupakan kolaborasi antara 12 mahasiswa NUS yang dipimpin oleh Miguel Escobar Varela dan PRASASTI – kelompok gamelan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB-UGM. Acara tersebut berlangsung pada hari Kamis, 25 September 2014 malam bertempat di Balai Budaya Minomartani, Yogyakarta. Pada sore hari selama 2 jam, sebelum pertunjukan Wayang Kulit, kedua kelompok mahasiswa mengadakan workshop gamelan khusus untuk mengiringi pertunjukan Wayang Kulit pendek. Workshop dipandu oleh Nanang Karbito, S.Sn. dan Eddy Pursubaryanto.

Miguel Escobar (alumnus INCULS FIB-UGM) mengatakan bahwa kegiatan mahasiswa NUS selama lima hari tersebut merupakan kegiatan wajib selama libur tengah semester (mid-semester break) dari matakuliah “Theatre and the World” yang juga dia ampu. Pada semester ini kota Yogyakarta dipilih sebagai tempat field-trip mereka. Selain menjadi tamu Fakultas Ilmu Budaya UGM untuk workshop gamelan dan Wayang Kulit, mereka juga menonton Wayang Kulit di Pusat Kusnadi Hardjasoemantri pada hari Jumat 26 September 2014 serta mengunjungi beberapa tempat yang terkait dengan World Theatre. Pengalaman di Yogyakarta diharapkan dapat memberi pendalaman tentang tradisi teater Asia terutama Wayang Kulit.

Rahmawan Jatmiko (koordinator program) acara ini mengatakan bahwa acara ini dapat meningkatkan kerjasama yang berkaitan dengan kegiatan seni dan menjadi sarana untuk meningkatkan cross-cultural understanding di antara para mahasiswa dari dua kultur yang berbeda. Selain itu, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mempererat kerjasama antar universitas yang tergabung dalam ASEAN University Network (AUN). Dikatakan selanjutnya, kegiatan ini dapat lebih memperkenalkan daya tarik FIB-UGM kepada pihak lain di luar negeri sehingga mereka tertarik untuk berkunjung lagi ke UGM atau bahkan belajar dan melakukan kegiatan kolaborasi akademik yang lain. Ditambahkan oleh Rahmawan, pertemuan semacam ini akan memunculkan kerjasama lain yang dapat dilakukan oleh NUS dan FIB-UGM.

Kirim Komentar