Background

28 November 2014 | Admin UGM INDO

 
 

Perubahan status beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang semula Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Nasional seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor: 153 Tahun 2000 kembali menjadi Perguruan Tinggi Negeri, membuat Universitas Gadjah Mada (UGM) meninjau ulang dan mengembangkan kebijakan Tri Dharmanya. Sejalan dengan konteks ini, seluruh kelembagaan di Universitas Gadjah Mada utamanya pelaksana kegiatan akademik, fakultas, program studi serta unit-unit terkait lainnya berusaha keras untuk menghadapi dan mengantisipasi serta mengambil langkah solusi tepat sehingga mutu pendidikan tetap terjaga meskipun kondisi-kondisi tertentu berubah.

Dalam merealisasikan cita-cita Universitas Gadjah Mada, Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya berkewajiban pula untuk mengambil kebijakan strategis dalam rangka penyesuaian terhadap perubahan paradigma tata kelola perguruan tinggi. Berpedoman pada Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPT-JP) dan Rencana Strategis UGM 2008 - 2012 yang telah memberi isyarat dan arahan umum mengenai hal dimaksud, Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya telah melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek kinerja kegiatan akademis utama. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kinerja Prodi dan prodi dalam penyeleggaraan proses pembelajarannya masih dapat dioptimalkan dengan menata kembali   kurikulum dan perencanaan sumber daya manusia (SDM). Kurikulum dioptimalkan dengan cara menyusun rangkaian mata kuliah yang lebih menjamin sistem pembelajaran yang berkesinambungan sehingga mempertajam dan meningkatkan kompetensi lulusan. Penajaman kompetensi dilakukan dengan mengurangi jumlah mata kuliah wajib Prodi sehingga menjadi lebih terfokus. Peningkatan kompetensi dilakukan dengan menambah jumlah mata kuliah pilihan yang signifikan.

Penulisan Skripsi sebagai sebagai Tugas Akhir (TA) merupakan wajib di Prodi Sastra Inggris terbukti mampu meningkatkan kemampuan penalaran lulusan. Hal ini perlu dipertahankan, bahkan masih dapat ditingkatkan dengan mekanisme scheduling, pembimbingan yang lebih efisien, dan mengoreksi aptitude tentang skripsi. Skripsi pada prinsipnya merupakan satu bagian saja dari academic performance yang harus dilakukan, dan bukanlah tujuan utama proses pembelajaran.

Sehubungan dengan berbagai persoalan yang muncul dalam proses pembelajaran, Prodi Sastra Inggris mencoba merancang Kurikulum Baru berdasar evaluasi diri kinerja Prodi dan arahan baik dari Renstra UGM maupun SK Rektor UGM Nomor: 581/P/SK/HT/2010. Kurikulum Baru ini juga mencoba menampung aspirasi para pemangku kepentingan untuk memadukan aspek-aspek Science Vision dan Market Signal secara arif. Faktor ketersediaan sumber daya baik manusia (dosen, peserta didik, dan pelaku akademik lainnya) maupun dana juga menjadi pertimbangan penyusunan kurikulum ini. Lebih dari pada itu Kurikulum Baru Prodi Sastra Inggris merupakan suatu upaya akademis bertujuan Peningkatan Kompetensi Lulusan Melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum ini diharapkan mampu memberi solusi tepat kepada peserta didik untuk merespon dan mengantisipasi dinamika masyarakat yang berlangsung sangat cepat. Disamping itu kurikulum ini akan menjadi landasan luwes bagi peserta didik baik yang akan meneruskan studi lanjut maupun mereka yang ingin terjun di berbagai kegiatan masyarakat di dalam dan luar negeri. Prodi Inggris berharap apabila kurikulum ini berjalan secara optimal efisiensi penyelenggaraan proses pembelajaran secara umum akan dapat tercapai.  

Di samping itu, kurikulum memberikan landasan pengertian “Sastra Inggris” yang tercantum pada nama prodi dan pernyataan visi. “Sastra Inggris” memiliki pengertian Sastra yang menggunakan medium bahasa Inggris dengan fokus utama pada sastra Inggris (Britania) dan Amerika. Adapun pengertian “Bahasa Inggris” adalah bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa Internasional, dan meliputi diantaranya ketrampilan berbahasa (listening, speaking, reading, writing), komponen (vocabulary, grammar, pronunciation), ilmu kebahasaan (linguistics), teknik-teknik pemerolehan (acquisition), dan evaluasi (testing).

Studi Sastra Inggris memiliki relevansi dengan pembangunan Indonesia karena karya sastra, dengan teknik-teknik dan strategi-strategi kebahasaan khusus, merepresentasikan, merefleksikan, mengkritisi, menggugat, mereformulasikan, dan menilai ulang aspek-aspek kehidupan (budaya, hukum, politik, ekonomi, sosial, agama, pendidikan) masyarakat tertentu. Mengkaji sastra secara tidak langsung berarti mengkaji aspek-aspek kehidupan di atas. Hal ini penting bagi Indonesia karena sastra sifatnya sangat universal.

 

Kirim Komentar